13 Pelajar Santri dan Kiai Pondok Pesantren Patani ditahan Militer Thailand

PATTANI— Aparat Militer Thailand menggeledahi sebuah pondok pesantren “Al-Falah” di distrik Mayo, provinsi Pattani, pada Ahad malam, 27/1/2019. 13 Pelajar Santri serta seorang Kiai ditangkap atas tuduhan melakukan pelatihan militan.

Operasi tersebut dibawah komandan Letnan Kolonel Somkid Kongkhong, Divisi Rangers 42, Pattani  yang mengerahkan seratus pasukan bergabung dengan kepolisian Departemen administrasi dan set forensik lebih dari 30 orang untuk memverifikasi sebuah pondok pesantren, Ia mengklaimkan terdapat informasi bahwa ada sekelompok 5-6 orang muda berlatih secara fisik seperti taktik militer.

Setelah itu, aparat militer Thailand melakukan pemeriksaan keseluruhan dalam pondok tersebut. 39 orang santri dan seorang kiai dikawal dan melakukan pemeriksaan ponsel dengan 6 kartu SIM bersama dengan barang-barang pribadi. Kemudian dikumpulkan DNA/sidik jari bagi santri yang disangka, pada Senin, (28/1/2019).

Sementara itu, 13 Orang pelajar santri dan seorang kiai ditahan ke Pusat Markas Militer ‘Ingkhayut’, atas tuduhan yang terdiri Saudi Lomeng (50) seorang Kiai pondok tersebut, dan santri Aliyas Deoraso (19), Sufian Je’ma (23), Muhammad Amri Makyeng (19), Makpoksu Khareng (40), Abdullah Sameng (18), Haris Misa (23), Yahya Dueramea (18), Thalit Waehama (21), Ahamad Cek Daud (36), Burhanuddin Lateh (22), Ramli Sameng (35) dan Bukhari Cekmak (19).

Menurut Letnan Somkid mengklaimkan bahwa dia diberitahu oleh penduduk desa bahwa terdapat informasi pelatihan fisik dilakukan santri dalam pondok tersebut. Setelah itu dikepung, ditemukan 13 anak santri asal Kamboja, paspornya kedaluwarsa Dan beberapa orang tidak memiliki paspor, kata Somki semua pelajar santri diselidiki dan di tahan beberapa orang ke Pusat Kamp Ingkhayut termasuk seorang kiai ‘KH. Saudi Lomeng’

Sementara Nyai Asdilah Salamea, Isteri KH. Saudi pemilik pondok ‘Al-Falah’, mengatakan bahwa pondok tidak memiliki hasutan. Tidak mempraktikkan apa yang dilakukan seperti latihan Militer, Namun para santri biasanya malam berolahraga berdasarkan, Kata Asdilah pondok hanya mengajarkan ilmu agama.

Kemudian ia menceritakan kisah yang terjadi pada malam operasi tersebut, sekitar pukul 22.30, setelah selesainya pengajaran Kitab Adalah saat yang santai dan istirahat bagi para santri. Ada beberapa orang sedang belajar, beberapa santri makan malam, beberapa orang bermain, lalu datanglah sebuah mobil militer dan memberitahunya untuk menggeledahi pondok. Dengan pasukan militer ranger yang penuh alat senjata memasuki dan memeriksa setiap kamar santri.

“Dia memanggil semua 11 anak-anak santri Kamboja. Beberapa orang menemukan bahwa paspor mereka kedaluwarsa. Beberapa orang tidak kedaluwarsa. Dan mengundang Babo (Kiai) untuk diselidiki dan Babo menegaskan bahwa latihan fisik itu tidak benar. Tapi menerima pelajar santri Kamboja itu, benarnya paspor kedaluwarsa ” ujar Nyai Asdilah

Pondok ‘Al-Falah’ ini dibangunkan sejak 2003, memiliki 7 rai tanah pondok, seperti pondok pesantren yang lain sebagai institusi tradisional yang mengajarkan Kitab kuning dan pelajaran agama. hanya pelajar santri laki-laki yang asal dari daerah tersebut seperti dari daerah Bannang Sata Betong, Yaring, Mayo sejumlah 50 pelajar santri, dan terdapat juga santri asal dari Kamboja.

Nyai Asdilah menjelaskan bahwa aktivitas Pondok pesantren ini dalam seharian tidak lepas dari pembelajaran kajian kitab ilmu Agama,

“Setiap hari dari bangun tidur dan setelah solat Subuh akan membaca Alquran dan mulai belajar kitab hingga jam 7.30 pagi, waktu istirat sampai jam 9.30, kemudian mengajar kitab  hingga jam 11.00 siang, di siang hari, setelah solat Zuhur lanjut belajar Kitab lagi jam 13.00, hingga jam15.00. Setelah shalat Azri sebagai jam istirahat para santri hingga jam 19.30 malam setelah solat Maghrib dan Isya, akan mengajar Kitab hingga pukul 21.00-22.00. Setiap hari, setelah itu akan melepaskan para santri bersantai dan bermain.” Jelas Nyai Asdilah.

Phobia Terhadap Pondok Pesantren di Patani

Menurut Abdul Azizyanya, Presiden Asosiasi Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren di 5 provinsi perbatasan selatan Thailand, mengatakan bahwa para santri yang ditahan petugas Tidak melakukan pelatihan militer seperti diklaimkan olehnya, Namun permainan anak-anak mereka bermain seni bela diri seperti Silat. Dan nyatanya tidak mempunyai senjata

“Saya menegaskan bahwa pondok ini tidak menghasut untuk pelatihan militan seperti dituduhnya, sementara para santri asal Kamboja yang paspornya kadaluwarsa Diminta untuk melanjutkan sesuai dengan hukum Setelah ini, Kiai pondok akan dipanggil untuk diselidiki. Dan berdiskusi tentang prosedur penerimaan pelajar santri dari luar negeri,  Pelajar harus di legalkan paspornya karena dikhawatirkan pemerintah jika dilanggar hukum justeru daerah ini memiliki masalah Konflik bersenjata, harus berhati-hati,” Tegas Abud Aziz.

Sementara Khaliyoh Ha’li, Ketua Kelompok Relawan Perampuan Provinsi Perbatasan Selatan Thailand, mengatakan bahwa seharian kehidupan para santri pondok di Patani, Thailand Selatan ini, kerapkali dituduh pemerintah Thailand sebagai tempat hasutan para pejuang Patani, namun dia mengatakan bahwa harus membangunkan dengan pemahaman yang benar bagi pemerintah, dampaknya muncul perasan bagi warga Muslim Patani ketidakpuasan dan semakin kurang kepercayaan terhadap pemerintah Thailand atas tuduhan membabi-buta.

Ia mengatakan bahwa terdapat kritik keras terhadap operasi pengepungan Pondok tersebut, bahwa warga setempat semakin tidak puas terhadap aparat dan pemeritah Thailand yang melakukan dengan impunitas dan sewenang-wenang. Dengan mengeledahi sebuah institusi pondok di tengah Malam tanpa memberitahu kepada pemilik pondok tersebut.

Operasi tersebut menangkap santri yang sedang bersantai saat waktu istirahat dari pembelajaran kitab, kata  Khaliyoh tindakan tersebut aparat melakukan dengan intimidasi dengan memakai senjata api. Sedangkan paran santri mereka hanya sebagai pelajar.

“Aparat militer melakukan dengan keterlaluan terhadap santri, apa lagi santri di bawah umur yang disuruh tiarap tanah dan diikat tangan seperti para tahanan, padahal mereka hanyalah Para Pelajar, aparat tidak boleh melanggar hak asasi manusia yang melakukan tindakan intimidasi,” kata Khaliyoh.

Kerapkali Podok pesantren di Patani, Thailand Selatan sebagai sasaran operasi militer dengan pengepungan dan penggeledahan aparat militer Thailand, yang selalu dituduhkan sebagai instuisi dan Gudang para militan pejuang pembebasan Patani, seperti pada tahun 2016 kasus penutupan pondok Jihad Wittaya Taqaddam atas tuduhan instusi para pemberontak Patani.

Bagi masyarakat Muslim Melayu Patani di perbatasan selatan Thailand tersebut, mereka menganggap bahwa pondok pesantren sebagai sebuah lembaga dasar yang kuat dalam mempertahankan pendidikan agama, bahasa dan kebudayaan yang telah beri nilai tertinggi terhadap para pelajar dengan jasa-jasa para ulama, guru yang mendidik generasi demi generasi. Semua anak-anak warga Muslim Patani mesti melewati dan belajar pondok pesantren.

Red: Johan Lamidin

Sumber:

https://mgronline.com/south/detail/9620000010149?fbclid=IwAR1Ny13CD-keLvjTdST5s2heG6yLVRW4knB3yNPTcijOG9Nm8Uu702aOJ9c

Comments

Red : Faizun Ibnihusen

Aktivis Indonesia (APPI)