Aksi Mahasiswa PSU, Ketika Warga Patani Ingin Pemilihan Umum

PATANI– Ikatan Remaja Independen Se-Patani ( IRIS) menyelenggarakan aksi kampanye. ‘Kami Ingin Pemilihan Umum’ di Gedung Kampus 19 dan Kantin Kampus, Universitas Prince of Songkla Kampus Pattani (PSU), Provinsi Pattani pada Kamis (15/2/2018) yang lalu. mereka memantau dengan kotak suara sebagai simbol hak demokrasi untuk rakyat.

IRIS dan sekumpulan aktivis mahasiswa PSU menggelarkan aksi kampanye “Kami Ingin Pemilihan Umum” untuk menyampaikan aspirasi demokrasi terhadap isu konflik Patani dan hak-hak masyarakat Thailand khususnya hak masyarakat terhadap isu proyek pembangunan tenga listrik batubara distrik Thepa dan Provinsi Krabi.

Menanggapi aksi kampenye ini, mereka mendorongkan pengamatan terhadap isu perdamaian Patani dan menyerukan para politisi Thailand mengadakan pemilihan umum pada tahun ini.

Menurut Areef Daleng keordinator aksi dan ketua biro social dan politik IRIS bahwa kegiatan tersebut menyampaikan pentingnya demokrasi terhadap isu konflik Patani dan hak masyarakat warga Thaialand umum khususnya isu pengguran warga Thepa dan Krabi dampak dari proyek pembangunan tenaga listrik batubara,

Areef menambahkan bahwa pentingnya nilai demokrasi, mengaharap bahwa pemerintah Thailand akan mengembalikan kestabilan masyarakat segera mungkin. Aksi tersebut menyampaikan dua isu, pertama di bawah Demokrasi untuk Politik, Demokrasi yang merupakan syarat penting bagi penentuan nasib sendiri rakyat Patani. kedua Di bawah kedamaian yang melekat pada kehidupan warga Patani di masa depan,

“Jika politik Thailand masih tidak demokratis. Maka Hak-hak demokrasi masyarkat umum dan perdamaian Patani, tidak bisa akan terjadi, “Ujar Arif,Kamis (22/2/2018) seperti dilansir oleh media Prachatai.

Demikian selesai aksi, Arif mengatakan, ada mahasiswa-mahasiswa dan warga masyarakat yang telah berkontribusi suara terhadap kampanye dengan baik. Hasil kotak suara menunjukkan jumlah 200 dari 204 orang ingin pemilihan umum, dan empat di antaranya tidak memberikan suara. Persensi 90% dari kalangan mahasiswa dan 10% warga masyarakat umumnya.

Junta militer pimpinan jenderal Prayuth Chan O Cha, yang juga menjabat sebagai Perdana Menteri Thailand, telah menunda pemilu beberapa kali. Prayuth melakukan kudeta pada Juni 2014 dengan menggulingkan pemerintahan Yingluck Shinawatra. Situasi ini mengindikasikan mahasiswa-mahasiwa dan rakyat umum Thailand ingin meninggalkan pemerintahan militer, yang berusaha tetap berkuasa melebih periode yang dijanjikan.

“Pemerintah Militer yang terus berlanjut tidak menunjukkan bahwa masyarakatnya demokratis. Dan jika pemerintah tidak mengadakan pemilihan umum pada tahun ini, Kita perlu menindaklanjut bagaimana mengatasinya, “ Ujar Arif.

Areef mengharapkan warga Patani (Thailand Selatan) bisa mendorongkan isu demokrasi bersama warga Thailand Umum,khususnya para mahasiswa, untuk mewujudkan masyarakat demokratis yang selama ini semakin pudar dan dilema,

“Warga masyarakat Patani harus mendorong isu demokrasi bersama warga Thailand untuk mewujudkan demokrasi sejati. Dan juga akhirnya kita akan dapat pemerintah yang benar-benar mendengar suara aspirasi rakyat umum. Bagi para mahasiswa kami mengharapkan bahwa agar akan belajar lebih banyak tentang politik Thailand, termasuk kesadaran mahasiswa-mahasiswa tentang isu konflik Patani ,” tegas Arif./ Red; Johan Lamidin

Sumber:
-Page Ikatan Remaja Independent Se-Patani (IRIS),
-translate Prachatai
Photo: ist/IRIS

Red : Faizun Ibnihusen

Aktivis Indonesia (APPI)