ARAH DAN PENENTUAN NASIB SENDIRI WARGA MELAYU MUSLIM PATANI DI SELATAN THAILAND

“Kita haruslah memiliki harapan tinggi, imajinasi yang besar, mencoba berjuang, kalah atau menang di dalam niatnya. Sebabnya inilah yang disebutkan hakekat hidup! Kita harus merebahkan semua yang merintangi hak-hak dan penentuan nasib kehidupan kita, kemerdekaan bagi semua rakyat bangsa kita” – Abu Muhammad Faton.

Dari kata-kata yang tersebut di atas, merupakan yang terkandung dalam arti dan makna bagi semangat dan komitmen seseorang terhadap agama dan bangsa yang ia cintai, dan oleh berbagai tujuan dalam berkehidupannya yang selama ini mereka sedang dialami nasib yang tertindas dan segala cobaan yang melanda diri mereka dengan tergabung yang terus-menerus mengalaminya krisis kerusuhan konflik yang sangat berat, ialah salah satu penduduk warga Melayu Muslim di Patani, Selatan Thailand yang pada saat ini telah mencapai usia 231 di bawah pemerintahan kolonial bangsa negara Thailand.
Bagaimana pun prosesnya hingga sampai ke titik ini 12 tahun konflik kekerasan bersenjata di Patani, Selatan Thailand telah banyak menumbuh dan berdirinya berbagai organisasi-organisasi masyarakat (ORMAS) berbagai gerakan mahasiswa (ORMAWA) di tanah air Patani sendiri, dimulainya pada tahun 2007 M, mendeklarasi diri pada sebuah demonstrasi rakyat tergabung dengan mahasiswa di depan Masjid Jamik Provinsi Pattani.

Mereka semua lebih memilih bergerak mengutamakan dalam berbagai persoalan-persoalan masalah yang telah terjadinya dengan penduduk warga masyarakat setempat yang terus-menerus dan telah menanggung penderitaan dari konflik tersebut, serta dalam upaya tersebut mereka untuk penyelesaian serta dengan terciptanya suasana kedamaian bagi penduduk masyarakat setempat.

Demi terciptanya bagi kehidupan rakyat dan masyarakat yang berkeadilan, kemakmuran dan berperikemanusiaan, semestinya bagi mereka semua tentunya sebagai orang generasi harapan dan cita-cita agama dan bangsa yang telah mereka berkepercayaan sebagai identitas jati diri bagi mereka selama ini.

Sejarah umat manusia sendiri telah membuktikan dalam sebuah gerak perjuangan untuk hidup dan membangun peradaban, sebagaimana telah kita ketahui bahwa, “Patani Darussalam” di masa yang silam, negeri ini telah terwujudnya sebagai negeri yang kehidupan rakyatnya mendapat adil, makmur, aman dan sentosa.

Patani dahulu juga pernah menjadi sebuah kerajaan yang berpemerintahan oleh Kesultanan Melayu Islam sehingga negeri ini dapat menjadikan sebagai pusat peradaban kebudayaan Islam di Asia Tenggara, di mana banyak pedagang dari Timur (Arab), Barat (Eropah), China dan India untuk masuk berlabuh menjalankan perdagangan dengan penduduk di negeri ini.

Ya, jika bercerita tentang hal itu juga memang hanya menjadi sebuah cerita dari sebuah perjalanan sejarah pada masa silam saja. Namun itu, percayalah bahwa sejarah keberadaban manusia didasarkan atas penghormatan yang setinggi-tingginya terhadap martabat kemanusiaan, keadilan, dan kebudayaan sebagai hal yang pengumpulan identitas bagi suatu bangsa yang telah menjadi warisan leluhur generasi pendahulu bagi sebuah kehidupan orang bangsa Melayu yang memeluk agama Islam seperti di Patani masa depan.

Hal itu, sekian lama sampai pada saat generasi yang sekarang ini. Situasi dan kondisi demikian berubah dan perkembangannya menjadi kehidupan orang di tanah air negeri ini sampai pada hari ini, kondisi gerakan rakyatnya, dan kondisi yang terkait dengan hubungan orang Melayu muslim yang berbeda dari segi kebudayaan kehidupan dengan berhubungan di bawah kekuasaan kolonial Siam, negara Thailand saat ini, ia sedang mencerminkan kondisi ruang hidup yang dihimpit dan sempit dalam penghidupannya yang sejati.

Dengan timbulnya berbagai krisis dan kerusuhan konflik kekerasan yang mengakibatnya kehidupan bagi penduduk akan mengalami sebuah cengkeraman dan mencekam yang melihatnya masih sangat jauh dari harapan dan cita-cita sebuah kehidupan bagi mewujudnya kedamaian yang hanya semakin terus-menerus sehingga menjadi sebuah cerita yang mendengarkan di telinga orang di dalam masyarakat setempat merupakan sebuah kepalsuan begitu saja.

Sebagaimana yang telah dipernyatakan oleh pemerintah dalam memberikan harapan kepada penduduk untuk berproses yang tidak berlama akan menyelesaikan masalah kerusuhan tersebut dan berharapan besar demi mewujudkan perdamaian di wilayah sempadan Selatan ini, namun hal demikian dari pihak pemerintah terutamanya adalah pegawai-pegawai yang bertugas di daerah tersebut cenderong berperilaku kepada masyarakat bahkan mereka merusakannya itu sendiri.

Pada kondisi yang demikian itu, juga dibutuhkan oleh gelombang kekuatan rakyat, persatuan dan kesatuan rakyat, yang tidak lain adalah sepertinya; Untuk membangkitnya kesadaran matahari, habisnya kesabaran bumi, memuncaknya cakrawala, sekaligus sebagai pelaksanaan perjuangan dengan memiliki ideologi dan dengan tujuannya jelas bagi segala tuntutan yang berdasarkan pada pembenaran agar tidak lagi membiarkan kejahatan akan menang dengan tanpa orang yang benar (penduduk itu sendiri) tidak melakukan apa-apa (diam).

Makanya di dalam masyarakat Melayu Muslim di Patani yang sedang mengalami hidup yang memundur pada saat ini. Hal ini, kemudian menjadi kepada kondisi konflik yang berkelanjutan tidak bisa diselesaikannya sampai saat ini. Berbagai hal dalam segala persoalan itulah, yang kemudiannya mereka sebagai warga masyarakat sipil (civil society) itu sendiri yang bangun dan sadar untuk menuntut dalam aksinya berkampanye saat menyambut dan merayakan pada hari lebaran “Idul Fitri 1437H” yang berkebetulan pada tanggal (06/07/2016) lepas, serta dengan mengangkat label menuliskan pesanan kata-kata “Right To Self Determination”, berupaya dalam menentukan nasib diri mereka sendiri. Maka puncak menuju ke referendum yaitu, Patani berpisah untuk mendirikan negara sendiri sebagai negara Patani atau tetap memeliharanya menjadi warganegaraan Thailand seterunya, Yes and No?.

Sebagai ujung dari tulisan dalam sebuah rangkaian pada tulisan artikel ini, dengan kita bersama mencoba untuk membayangkan pada kondisi umat Melayu Muslim Patani saat di mana diantara penentuannya dari rangkaian di atas tersebut akan bisa menjadikan sebuah roda perjalanan pembawaan dan nasib kehidupan mereka yang selanjutnya akan menuju kearah ke mana pergi dan jelas dalam penentuan tersebut merupakan hak untuk mereka semua yang memiliki hak kebersamaan lebih-lebih lagi semua itu bukan hal yang secara mudah dan tiba-tiba yang menunggu selama ini. Dan juga bisa mengambil seperti menjadi sebuah contoh sepertinya referendum Timor-Leste telah mendapatkan terpisahnya dari negara Indonesia (mendirikan pemerintah negara sendiri), referendum Aceh telah menjalankan pemerintahan sebagai Daerah Otonomi Khusus dari negara Indonesia, referendum Crimea (Ukraine) telah tetap memeliharanya menjadi warganegaraan Rusia dan banyak lagi dari bangsa-bangsa lain di dunia ini dan sebagainya.

Berbagai pandangan semua tersebut akan menjadi sebuah perubahan arah kemajuan atau kemunduran seterusnya bagi warga setempat itu sendiri karena warga Melayu Muslim Patani sendiri juga telah merasa dan sadar, yang juga telah jelas dan nyata pada realitas bagi mereka telah menempuh dalam sebuah kehidupan yang mengalami mereka dari selama ini.

Penulis: Abu Muhammad Faton

Comments

Red : Faizun Ibnihusen

Aktivis Indonesia (APPI)