Dimensi Sastra dalam Sebuah Puisi

Kita tahu di Indonesia memiliki banyak penyair-penyair luar biasa yang memiliki peran dalam karya satra. Karya sastra tersebut tercipta dari persaan yang dirasakan oleh penulis dan dituangkan dalam bentuk tulisan dengan bahasa yang indah dan penuh estetika, sehingga karya tersebut dapat menghibur dan dinikmati oleh semua kalangan yang ingin membacanya.

Setiap pembaca memiliki cara dan gaya masing-masing dalam menikmati sebuah karya sastra. Dengan kata lain, pembaca dapat memahami dan memaknai suatu karya sastra dengan ruang dimensi dan imajinasi si pembaca itu sendiri.

Di malam hari yang diterangi cahaya rembulan, saya membaca puisi ini dengan membuka ruang pikir saya agar dapat memaknai arti dari puisi ini. Puisi ini menarik saya untuk mendalami lebih jauh tentang makna “cinta”, dengan pemakian diksi dan kata yang menarik Sapardi memainkan kata yang cukup hidup didalam puisi ini.

Disetiap dalam puisi membuat saya dan orang membacanya agar mengetahui apa arti dari “cinta” yang sebenarnya.
Dengan kata “mencintai” dan “harus” disetiap baitnya, puisi ini seolah ingin menjelaskan suatu makna; apabila jika kita mencintai sesuatu harus adanya bentuk pembuktiaan dan pengorbanan atas apa yang kita cintai.

Ditiap kalimat yang mencoba membuat kita terhanyut dalam sebuah imajinasi, memaknai arti dari saling melengkapi.

Bila kita selami lebih jauh puisi Sapardi ini, terdapat kata yang memiliki makna seperti ciut, ricik, terjal, jilat, jarak dan aku, menggambarkan bahwa dalam mencintai kita tak perlu menjadi yang sempurna cukup menjadi hal yang kecil namun dapat melengkapi satu sama lain sehingga menjadi cinta yang sempurna atas peran yang menjadi pelengkap.
Puisi “Sajak kecil tentang Cinta” menggunakan irama yang merujuk kepada sebuah perasaan, rasa yang lebih kepada yang dicintainya.

Rasa yang didapat dalam puisi ini adalah rasa melengkapi dan menjadi bagian dari apa yang dicintai, sehingga rasa cinta lebih sempurna bila cinta tersebut ada pembuktian.

Amanat yang dapat diambil dari puisi ini, yaitu cinta yang harus ada pembuktian bukan hanya sekedar omong kosong dan dapat menutupi dan melngkapi atas kekurangan yang dicintai, sehingga dapat terjalin cinta yang sempurna dalam suatu ikatan.

Jambi, 27 Februari 2020

Muhammad hair, Tembilahan, Indragiri Hilir, Indonesia.
Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas jambi.

Red : Faizun Ibnihusen

Aktivis Indonesia (APPI)