Genap 12 Tahun Tragedi Tak Bai, Proses Peradilan Diabaikan Pemerintah

Pada tanggal 25 Oktober mendatang, adalah genap 12 tahun peristiwa pembantaian terhadap warga masyarakat Melayu Muslim Patani di Thailand Selatan. Peristiwa ini terjadi pada tanggal (25/10/2004) lalu, dimana penduduk berjumlah sekitar ratusan orang keluar menuju ke Balai Polisi daerah Tak Bai, Narathiwat. Tujuannya bagi meminta kepada pihak berkuasa untuk membebaskan 6 sukarelawan yang ditahan pada beberapa hari sebelumnya atas tuduhan mencoba untuk mencetuskan pemberontakan terhadap pemerintah. Namun tindakan pihak berkuasa dalam membubarkan para demonstran itu berakhir dengan kekerasan dan mengakibatkan 85 nyawa melayang. Peristiwa ini telah berkesan dan menimbulkan rasa ngeri dalam kalangan rakyat Patani hingga sekarang.

Namun pemerintah menjawab atas pertanyaan dari rakyat Patani, bahwa tidak mengakui sembarang tindakan itu adalah dari kesalahan pihak pegawai, proses peradilan telah diabaikan pemerintah. Hal itu dapat mengatakan tindakan dari pemerintah selalu anarkis terhadap suatu peristiwa pelanggaran HAM berat yang terjadi. Bahkan peryataan dari pemerintah setelah beberapa hari selepas peristiwa terjadi, mereka menuduh atas kesalahan pada peristiwa tersebut adalah penyebab karena warga terputusnya oksigen untuk bertahan hidup, justru ini bukan ablatif yang pihak berkuasa tidak mau mengakui atas kesalahannya, karena semuanya sudah terbukti yang jelas.

Dari akibat terjadinya peristiwa tragedi pembantaian terhadap warga masyarakat Patani di Tak Bai, dapat mengatakan telah cukup dengan penindasan dan melanggar asasinasi yang sangat kejam. Hal itu, juga merupakan salah satu faktor yang membuat masyarakat Patani untuk berjuang bersama dalam menuntut hak bagi kemerdekaan bangsa Patani berdaulat kembali. Oleh karena mereka merasa bahwa selagi Patani dibawah naungan pemerintah Thailand selama itulah penindasan akan terus terjadi dan berlangsung hingga seperti apa yang dirasakan mereka sampai sekarang pun.

Selain itu, tidak beberapa hari pada waktu mendatang adalah genapnya 12 tahun peristiwa pembantaian terhadap warga masyarakat Patani di Tak Bai pada tanggal 25 Oktober 2016, setiap tahun, para mahasiswa, akademika, dan warga masyarakat Patani selalu untuk mengadakan acara dalam memperingati sekaligus menuntut hak bagi keadilan terhadap mangsa yang terkorban pada peristiwa tersebut. Dan sudah beberapa kali, ketika mahasiswa Patani menggelarkan aksi menyuarakan tuntutan keadilan tetapi mereka dilarang pihak polisi dan tentara yang menjaga keamanan kawasan setempat. Dari situlah sudah menunjukkan bahwa hak-hak bagi masyarakat Patani sudah direnggut oleh pemerintah yang selalu mengatakan negara ini menganut sistem demokrasi tetapi realita dari tindakannya otoriter!

By : Saifudin Sulong

Comments

Red : Faizun Ibnihusen

Aktivis Indonesia (APPI)