Genap Satu Tahun, Pondok Jihad Wittaya Disita Pemerintah Thailand

Turanisai.com – Pondok Jihad atau Sekolah Jihad Wittaya Taqaddam didirikan di tahun 1968 oleh Kyai Ibrahim, seorang guru agama tempatan di masa itu. Sekembalinya dari pendidikan, masyarakat memintanya untuk mendirikan sekolah/pondok. Beliau pun akhirnya mendirikan pondok pesantren dan membangun TADIKA (Taman Didikan Kanak-kanak) bagi memberikan pendidikan kepada generasianak Melayu-Muslim Patani. Pondok ini terletak di Kampung Thadan (Kedae), Telukkapo, Daerah Yaring, Pat(t)ani. Sejak saat itu, Pondok Jihad Wittaya memainkan peranan penting di masyarakat Patani melalui pengajaran agama. Namun Pondok Jihad sendiri diartikan sebagai “Terus mengembangkan dan memperbaiki diri” bukan “berperang” seperti arti “Jihad” yang dipahami selama ini.

Pada 14 Febuari 2016 lalu, Pondok Jihad Wittaya di Patani, dimana kejadiannya sewaktu itu setelah para keluarga bersiap mengemasi semua harta milik di rumah asal bekas “Pondok Jihad Wittiya” beserta keluarga desa disekitar kampung dan alumni saling membantu untuk berangkat keluar dari rumah yang merupakan lokasi dari bekas Sekolah Jihad Wittaya. Mereka harus meninggalkan tempat kediaman asal ini setelah kalah kasus di pengadilan berdasarkan perintah Komite Transaksi Anti Pencucian Uang Pasal 2542.

Mahkamah memutuskan menarik semua aset dan menjadi milik harta negara mengikut Undang-Undang Pertahanan dan Komite Transaksi Anti-Pencucian Uang dengan tuduhan kasus ‘Pondok sebagai markas pelatihan dan mendukung pejuang dengan senjata’ dilansir berita Hidayatullah.Com, Jum’at 11 Maret 2016).

Pondok Jihad Wittaya cerita sebelumnya, masa setelah Tuan Guru Ibrahim wafat, apa yang dirintisnya dilanjutkan menantunya, Tuan Guru H.Abdullah Naas pada 2005, dan saat itu terjadinya peristiwa yang kurang lebih 1.000 militer Thailand menyerbu pondok, dengan alasan menuduh tempat pelatihan pemberontak.

Sejak tahun 2005, Pondok Jihad telah ditutup oleh pemerintah Thailand. Dan sebulan setelah pondok ini ditutup, Kakak Balian, Ridwan dibunuh oleh tentara Thailand. Ia ditembak di atas sajadahnya ketika sedang sujud mengerjakan shalat maqrib.

“Di sini dulu ada kurang 200 orang santri. Namun pada 2005, militer menutup pondok. Satu mobil dirampas. Tuduhannya, ini tempat latihan para pejuang. Ayah saya hingga kini tak diketahui keberadaannya. Dia dicari kerajaan untuk ditangkap”, Kata Balian, anak dari Tuan Guru H.Abdullah kepada wartawan Jubi kala itu kutipan Tabloijubi.Com, tanggal 16/09/2015.

Sejak peristiwa kekerasan kembali pergolakan baru. Pondok Jihad telah dijadikan sasaran utama pemerintah Thailand dalam sekala percetusan konflik putaran baru di Patani pada 2004 lalu. Diiringi situasi  konflik kejadian hampir 11 tahun, Pondok Jihad telah ditutup proses belajar mengajar dilarang. Bahkan kepala sekolah, para guru hingga keluarganya juga menjadi sasaran kekerasan pemerintah. Beberapa anggota keluarga bahkan menjadi korban pembunuhan.

Dan bertepatan hari ini, tanggal 14 Februari telah genap satu tahun merupakan dimana “Keluarga Pondok Jihad” ketika itu diusir untuk keluar dari tempat kediamannya sehingga diharuskan mereka berkedudukan tempat yang sementara perkemahan di sebuah masjid desa.

Kini sekolah itu hanya meninggalkan puing-puing pondokan yang mulai lapuk dan seonggok cerita pilu. Yang pernah menjadi benteng pendidikan kepada anak Melayu-Muslim Patani. Kala itu, selain Pondok Jihad Wittaya juga banyak pondok-pondok lainnya telah diperintah tutup seperti Islam Burapa (Pondok Sa’pom) di Kampung Baru, Kaluwo, Muang, Narathiwat.

Namun itu, bagi masyarakat Melayu-Muslim Patani menganggap sekolah pondok sebagai dasar bangunan yang kuat dalam mempertahankan pendidikan agama, bahasa dan kebudayaan dan telah beri nilai tertinggi terhadap sekolah pondok dengan jasa-jasa para ulama, guru yang mendidik generasi ini. Jadi, masa masyarakat bangsa Patani bernasib di bawah kuasa negara Thailand hingga saat ini, akan pembangunan dan masa depan generasi-generasi bangsa ini sedang dalam sekala masa kemunduran untuk dibangkitnya kembali.

Comments

Aksi Mahasiswa

Diaspora

Leave a Reply

id Bahasa Indonesia
X