Kematian di Patani Meningkat Akibat Pandemi Virus Korona

Patani – Kabar umat Islam di Patani… Selasa (31/3) telah kehilangan seorang yang ketiga akibat pandemi virus korona (covid-19), sementara kejadian di beberapa negara yang jumlah kematian paling tinggi di dunia, diantaranya Negara Italia, Spanyol, dan China saat ini.

Di Patani, sepertinya ini menjadi korban yang kedua yang meninggal di Rumah Sakit Wilayah Yala pada jam 08.30 pagi kemaein, yang dikenal nama Mahama Makeng, 75, setelah korban yang pertama meninggal pada (29/3) lalu.

Sementara korban yang pertama di Patani dari wilayah Narathiwat yang meninggal pada hari Jum’at (27/3) sepekan lalu.

Demikian ketiga korban tersebut adalah umat Islam yang baru sahaja pulang daripada Negara Malaysia.

Menurut laporan terkini mereka yang terjangkit virus korona (covid-19) di tiga wilayah perbatasan selatan, yakni di Yala terdapat 38 orang positif virus dan 2 orang telah meninggal, di Narathiwat terdapat 10 orang positif virus dan seorang telah meninggal, dan di Pattani terdapat 44 orang positif virus tetapi belum ada yang meninggal.

Walaupun demikian, dalam menghadapi wabah virus korona (covid-19) ini tampaknya pemerintah junta Thailand tidak memprihatin sangat dengan bencana kemanusiaan ini.

Bahkan dalam masa yang sama pihak kerajaan Thailand akan mengguna sebagian besar anggaran subsidi (badget) negara hanya untuk membeli alat persenjataan daripada mereka melengkapi alat kesehatan untuk melindungi nyawa penduduknya.

Beberapa rumah sakit khususnya di tiga wilayah perbatasan selatan sampai kekurangan alat perlindungan diri, seperti masker dan respirator untuk pasien.

Sejauh ini di Patani dikenal sebagai salah satu daerah rawan konflik di Asia Tenggara, akibatnya jumlah korban tercatat lebih dari 7.000 jiwa telah meninggal, sedikitnya 15.000 luka-luka.

Wilayah ini seharusnya mendapat pilihan menentu nasib diri sendiri dari Thailand. Karena Kerajaan Thailand telah menganeksasi secara politik melalui Perjanjian Bangkok (Anglo-Siamse Treaty) pada 10 Maret 1909 M.(af)

Comments

Red : Faizun Ibnihusen

Aktivis Indonesia (APPI)

id Bahasa Indonesia