Mahasiswa Indonesia Bersilaturrahmi Memahami Sejarah dan Konflik Patani

Turanisia.com – Rekan mahasiswa Indonesia berkunjung Asrama Mahasiswa Patani di daerah Gowok, Sleman, DIY. Di kesempatan ini, telah mereka kenali sebelumnya persahabatan mahasiswa Patani di kelas perkuliahan, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga dan mengajak untuk berhubungan silaturrahmi dengan perkumpulan pelajar mahasiswa Patani yang berada di Yogyakarta, Indonesia. Selain itu, mereka untuk berdiskusi mengenal PATANI “Memahami Konflik Patani” dilansirkan page Facebook Liputan1MP, Sabtu (17/2).

Rombongan 9 mahasiswa Indonesia ini, selain tujuan kunjung silaturrahmi dalam pertemuan kali ini. Sempena itu, mereka juga berdiskusi tentang PATANI dan telah mengemukakan beberapa pertanyaan tentang sejarah dan krisis konflik yang dialami masyarakat Patani saat ini, sampai bertanya tentang cita-cita dan hasrat mengenai masyarakat bangsa Patani masa depannya.

Mengenal PATANI “Memahami Konflik Patani”

Letaknya geografi wilayah Patani yang berbatasan dengan negara Malaysia. Patani hak milik Tanah Melayu, bekas negeri Kesultanan Melayu yang berdiri sejak tahun 1457 sebelum ditakluk oleh kerajaan Siam Thailand tahun 1785, melalui jalur peperangan masuk dan berkuasa atas negeri Melayu Patani.

Sebaliknya, keadaan konflik dialami masyarakat bangsa Patani, konflik berakar pada ‘identitas Patani’ atau ‘Melayu-Muslim’ yang tidak bisa dipisahkan keduanya dengan orang Patani seutuhnya. Dan karena Patani juga merupakan suku, ras, bangsa yang pernah berdaulat dan merdeka dalam tahun (1457-1785). Namun akibat terjadinya setelah kejatuhan Kesultanan Melayu Patani, telah membuat manusia Patani mengalami nasib yang sengsara dan penderitaan di bawah kuasa kerajaan Siam Thailand hingga saat ini.

Thailand benar-benar memerintah rakyat Patani tidak berkeadilan dan tanpa memelihara hak-hak rakyat bangsa Patani. Setelah diresmi secara tanpa kerelaan penduduk Patani untuk negerinya menjadikan bagian daripada wilayah milik kerajaan Siam Thailand, mengkhawatir tentang nasib Patani.

Pemerintah Thailand ingin merubah identitas bangsa dan agama kepercayaannya orang Patani kepada yang satu nasional Thai, artinya tidak ada agama dan bangsa lain daripada yang berbangsa Siam-Budha di negara ini.

Hal ini telah menjadi bertentangan dengan undang-undang antara bangsa (hak berbangsa) karena mereka memiliki identitas yang tersendiri, yaitu secara bahasa, budaya, dan agama mereka berbeda dengan bangsa Siam Thailand umumnya. Namun bagi orang Patani, mereka tidak menganggap bahwa hal tersebut menjadikan perbedaan tradisi mereka dengan Thailand, sehingga menimbul konflik. Tetapi itu, karena Thailand melakukan ketidakadilan atas mereka sehingganya terpecah-belah, bangsa Melayu tidak diakui, sampai konflik yang berkepanjangan dan mereka membangkit menuntut hak menentukan nasib sendiri (Right To Self Determination).

Menurut Muhammad, mahasiswa Patani Yogyakarta, Negara Thailand berbeda dengan Indonesia jika membandingkannya, Negara Indonesia mampu mempunyai beragam suku, ras, agama, bahasa, budaya, mereka bisa tinggal bersama hidup bersama, namun apabila tinjau kepada fenomena konflik Thailand Vs Patani, terjadi karena Thailand tidak menerima Patani sebagai suatu bangsa dan rakyat tidak dapat berekspresi antara hak yang mereka milikinya, baik persoalan pendidikan, ekonomi, budaya, bahasa, sosial, politik, sampai krisis pelanggaran HAM.

Di kesempatan ini juga, mahasiswa Patani berpesan terhadap rekan mahasiswa Indonesia agar krisis dialami masyarakat bangsa Patani disampaikan ke masyarakat publik, ranah internasional untuk berprihatin mereka di sana. SIARA PATANI.

Comments

Aksi Mahasiswa

Diaspora

Leave a Reply

id Bahasa Indonesia
X