Memandang Kapabilitas Informan Covid-19 Dalam Kacamata Rijal Al Hadis, Perlukah Demikian?

Mubham-nya Pihak-pihak Penyampai Informasi COVID-19

Turanisia.com – Informasi yang selama ini dapat diakses oleh pelbagai pihak, tentu telah melewati rute publikasi yang panjang.

Dapat dibayangkan bagaimana suatu sumber berita yang disajikan banyak laman di internet, menjadi konsumsi publik yang masif dan berkelanjutan.

Menurut data yang dimuat oleh CNBC Indonesia, bahwa pengguna jasa internet oleh masyarakat kita sudah mencapai angka 171,17 juta jiwa di tahun 2018. Angka ini setara dengan 64,8% dari total penduduk Indonesia, yaitu 264,16 juta jiwa.

Ragam informasi mengenai virus COVID-19, atau yang masif kita kenal dengan virus korona, sekarang marak merebak dimana-mana.

Sejatinya sangat mungkin sudah mengalami momen re-modify oleh oknum-oknum yang tidak bertanggunjawab.

Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan, karena permasalahannya bukan hanya pada muatan informasi, namun juga ada konteks bertaruhan dengan kebenarannya apabila isinya berhubungan dengan praktik kesehatan.

Momentum ini akan digunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab, untuk membuat sebuhah opini publik/ anjuran praktik kesehatan yang cenderung negatif.

Memang tidak bisa dihindari adanya penyebaran suatu opini atau informasi tersebut, namun sangat disayangkan apabila muatannya hanya sebuah kepentingan pribadi dan dilandasi atas tujuan keuntungan sementara.

Oknum yang tidak bertanggungjawab inilah yang kemudian disebut oleh penulis sebagai periwayat informasi yang mubham (majhul).

Menurut para ulama hadis, mubham adalah istilah yang dipakai untuk menamai seorang periwayat yang tidak dikenal oleh ulama hadis. Periwayat yang dikatakan mubham, diasumsikan bahwa periwayatannya lemah.

Hal ini dituturkan oleh Ibn Hajar al Asqalani (w. 852 H) dan Ali al Qariy (w. 1014 H) yang menempatkan mubham pada kategori ke-8 dari 10 tingkatan dalam sifat-sifat ketercelaan seorang periwayat dengan kategori al jahalah.

Lihat: M. Syuhudi Ismail, 2014
Permasalahannya adalah apabila periwayat tidak dikenal kepribadiannya dalam menyampaikan suatu berita (dalam hal ini hadis) oleh ulama hadis, apakah bisa dikatakan bahwa periwayatannya absah untuk diterima? Hal inilah yang selanjutnya dikatakan oleh para ulama hadis sebagai majhul ‘ain.

Refleksi terhadap Konteks Penyaluran Informasi COVID-19

Kita menyadari bahwa sekrang ini, berbagai macam informasi mengenai COVID-19 dapat kita konsumsi setiap waktu dan dimanapun berada.

Namun selayaknya informasi tersebut harus diperhatikan asal-muasalnya dari sumber yang kredibel atau tidak.

Penulis banyak menjumpai berbagai fenomena dimana grup-grup diskusi maupun grup yang dibuat atas nama identitas tertentu, menjadi sasaran empuk untuk menyebarkan berbagai penyebaran informasi mengenai wabah ini dengan tidak bijak.

Ini bisa kita temukan di grup media sosial dari masing-masing orang yang mempunyai gawai, mulai dari Whatsapp, Telegram dan sebagainya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang yang menyampaikan informasi mengenai anjuran praktik kesehatan dengan mudah, padahal hal itu apabila tidak didalami dengan saksama, akan menimbulkan efek negatif yang berkelanjutan.

Banyak kita jumpai, berbagai pihak yang menyandarkan hipotesa kesehatan maupun perilakunya terhadap informasi yang disebar di media-media sosial tersebut.

Dan pernyataannya tersebut disampaikan kembali kepada banyak orang. Tentu masalah semacam ini sangat miris apabila diperhatikan secara serius.

Informasi yang mulanya tidak diketahui sumbernya dari mana (dalam hal ini mubham), atau bahkan sumber yang tidak dikenal kredibilitasnya sebagai seorang praktisi kesehatan atau ilmuwan spesialis (dalam hal ini majhul ‘ain), dijadikan pijakan dalam menyampaikan dalil-dalil mengenai COVID-19 ini .

Akhirnya menurut penulis, sikap kritis terhadap suatu informasi pun vital untuk dilakukan, karena hal tersebut akan membawa pada sikap selektif terhadap suatu hal.

Apabila suatu informasi (dalam hal ini info kesehatan) menyimpang dari ketentuan aspek kewajaran dan norma yang ada, maka selayaknya kita dapat melihatnya secara komperehensif, bukan malah mengkonsumsinya dengan mentah-mentah.

Selain itu, tidak bijak rasanya bila sebgai reader harus berpijak pada informasi-informasi yang disampaikan di ”grup-grup diskusi medsos”, yang mana hal tersebut tidak berasal dari ahlinya.

Selain itu, memantau secara berkelanjutan, laman-laman web yang telah disediakan pemerintah maupun mengikuti anjuran dari para dokter dan praktisi kesehatan untuk penanggulangan COVID-19 ini pun menjadi penting untuk diperhatikan.
Wallahu A’lam bi as showaab

Oleh : Perdana Putra Pangestu

Comments

Red : Faizun Ibnihusen

Aktivis Indonesia (APPI)

id Bahasa Indonesia