PENGARUH BAHASA THAILAND DI BUMI PATANI

Bahasa adalah salah satu unsur yang menunjukkan sebuah identitas/ jati diri suatu kelompok orang dan juga menjadi sebagai simbol bagi sebuah bangsa agar bangsa lain dapat mengenalnya dengan mudah.

Pada dunia internasional sangatlah mengambil berat untuk bahasa terutama bahasa nasional masing-masing, selanjutnya bahasa Internasional yaitu bahasa Ingris tetapi berbeda dengan masyarakat Patani mereka tidak bisa belajar bahasanya secara maksimal. Oleh karena Patani adalah negara jajahan Thailand makanya harus belajar bahasa nasional Thailand yaitu bahasa “Thai” dan bahasa nenek moyangnya sendiri yang menjadi sebagai warisan yang amat berharga yaitu bahasa Melayu. Disamping itu bahasa Ingris dan bahasa arab juga menjadi bahasa yang harus dipelajari oleh masyarakat umum.

Kalau kita lihat secara langsung sangatlah bagus pendidikannya, tetapi pada kenyataan sebaliknya karena terlalu banyak bahasa yang harus dipelejari dan juga bagi masyarakat Patani harus belajar setiap hari dalam arti Senin sampai  Jum’at adalah hari untuk belajar sekolah umum (Sekolah Siam/Akademik) Sabtu dan Minggu adalah hari untuk belajar sekolah Taman Didikan Kanak-kanak (TADIKA) yang selaku sekolah bagi orang Muslim Melayu Patani untuk mempelajari tentang Keagamaan dan Kemelayuan.

Bahasa Melayu di Patani

Bagi masyarakat yang berada dalam kondisi/keadaan perang seperti di Patani sangatlah sulit untuk mempelajari bahasa Melayu, karena basis penjajahan Thailand mencakupi keseluruhan yaitu dibidang pendidikan (merubah semua kurikulum di Patani menjadi nasionalis Siam-Thai), dibidang ekonomi (mengeksploitasi ekonomi), dibidang identitas (mengasimilasi budaya dan bahasa Melayu) dan dibidang lain yang ada di masyarakat Patani. Patani mempunyai satu bahasa yang menjadi bahasa identitas bangsa Patani yaitu bahasa Melayu Patani atau dinamakan secara umum yaitu bahasa Melayu timur, bahasa Melayu di semenanjung Melayu ini juga memiliki perbedaan sesuai dengan lokasi masing-masing.

Kebijakan politik Thailand dalam upaya menghapuskan bahasa Melayu Patani sangatlah kejam kalau dilihat secara teliti, karena Thailand berdaya-upaya disetiap aspek agar bahasa Melayu Patani dimusnahkan. Hingga sampai sekarang hasil upayanya sudah 65 persen dari kalangan anak muda yang berlatar belakang pendidikannya di sekolah dasar hingga perguruan tinggi Thai berhasil, yaitu sebagian darinya menggunakan bahasa Melayu bercampur dengan bahasa Thai dalam kehidupan hariannya, mereka lebih mudah paham dan lebih senang dengan bahasa Thai dalam arti ketika mereka berbicara dengan menggunakan bahasa Thai mereka lebih merasa hebat bahkan sampai melupakan bahwa bahasa Thai adalah bahasa penjajah.

  1. Tuan Guru H. Sulong pernah mengajukan tujuh tuntutan kepada Thailand, dalam tujuh tuntutan itu ada dua tuntutan yang berkait dengan bahasa Melayu (Tuntutan yang ke 2 dan 5), disini kita harus menganalisis bahwa kenapa dalam tujuh tuntutan tersebut terdapatnya dua tuntutan yang berkait dengan bahasa Melayu? Dengan hal ini dapat kita mengetahui bahwa Tuan guru H. Sulong sangat mementingkan bahasa Melayu agar bahasa Melayu terkokoh di tanah Patnai dan bahasa juga sebagai salah satu identitas yang penting bagi sebuah bangsa, sesuai dengan pepatah Melayu “Hilang bahasa hilanglah bangsa”.

Patani disaat ini sudah tidak dikenal orang, karena sejarahnya sudah dihapus, identitas-identitas lain juga sudah hilang, maka dengan hal ini harus bagi rakyat Patani menjagakan bahasa Melayu yang menjadi identitas bangsanya, meskipun Hang Tuah pernah mengatakan “Takkan Melayu hilang di dunia” tetapi jika rakyat Melayu sendiri tidak menjagakan identitasnya sendiri khususnya bagi penduduk Melayu Patani yang saat ini sudah terpengaruhi dengan bahasa Thai yang menjadi sebagai bahasa penjajah. Akhir kalam saya dengan pepatah “Melayu akan hilang didunia jika rakyat Melayu tidak menghargai jatidirinya sendiri”.

By : Anak TADIKA

Comments

Red : Faizun Ibnihusen

Aktivis Indonesia (APPI)