Peranan Ulama dalam Perjuangan Kemerdekaan Bangsa

Wilayah merupakan ladang dakwah, tanpa wilayah, kegiatan dakwah tidak mungkin dilaksanakan. Maka hubungan wilayah dengan agama tak dapat dipisahkan dalam kehidupan bangsa, sebaliknya, bangsa tidak mungkin berpisah dari wilayahnya.

Dengan demikian, nampak dengan jelas bahwa hubungan di antara ketiganya merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Menjaga ketiga itu dari kolonialisme adalah kewajiban bangsa dan tuntutan agama. 

Seperti perjuangan kemerdekaan Indonesia, Buya Hamka pernah berkata, “Cinta tanah air bagian dari iman”. Begitu ulama nusantara mentafsirkan kata “Jihad” dalam arti yang luas, jihad qital adalah merebut kemerdekaan, maka nilai patriotisme dan nasionalisme harus tertanam pada segenap bangsa.

Ulama mempunyai pengaruh yang besar, dalam membimbing rakyat. Kandungan dalam sejarah Indonesia, terdapat peristiwa Fatwa Jihad dan Resolusi Jihad yang dinyatakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH. Hasyim Asy’ari. Kemudian menjadi kebangkitan kaum muslim di seluruh Indonesia dalam menghadapi gelombang Jihad Fisabilillah.

Adapun catatan yang terkandung dalam Fatwa Jihad adalah :

 

  1. Hukumnya memerangi orang kafir yang merintangi kepada kemerdekaan kita ini adalah fardu Ain bagi tiap-tiap orang Islam yang mungkin meskipun bagi orang fakir.
  2. Hukumnya orang yang meninggal dalam peperangan melawan Nica serta komplotannya adalah mati syahid.
  3. Hukumnya orang yang memecah persatuan kita sekarang ini wajib dibunuh.

 

Mengingat fatwa tersebut, maka para Alim Ulama selalu siap sedia berjuang dengan sekuat tenaga untuk membela agama dan kemerdekaan. Fatwa Jihad ini kemudian menjadi bahan bakar semangat rakyat untuk aksi melawan para penjajah. 

Belakangan ini, istilah jihad mulai ditafsir ulama modern, terlihat jelas bahwa tidak seutuh seperti makna jihad sesungguhnya, dengan alasan menjaga kebijakan keragaman kulturalisme dan integralisasi ke dalam kebhinekaan.

Jika melihat pada belahan dunia, masih banyak kaum muslim minoritas menimpa perlakuan diskriminatif, bahkan sampai dibunuh oleh pemerintah yang tidak memiliki nilai-nilai kemanusiaan. Seperti Islam di Myanmar (Rohingya), Filipina (Bangsa Moro) dan Thailand (Bangsa Melayu).

Sebagai contoh di Thailand, dalam laporan Internasional Crisis Group (ICG), daerah paling selatan di negara Thailand merupakan bekas negeri Melayu Muslim, kemudian menjadi taklukan Thailand pada 1909 melalui perjanjian dengan British kala itu.

Kaum muslim di Patani mulai bangkit melawan Thailand semenjak kejatuhan wilayahnya, sampai saat ini konflik bersenjata belum menemu titik penyelesaian. Begitu juga di Myanmar yang menimpa terhadap muslim Rohingya. Sementara di Filipina selatan, rakyat sudah diberikan hak istimewa dalam mengatur urusan di Mindanau.

Problematika yang menimpa atas umat Islam di belahan dunia, membutuhkan peranan ulama dalam menerangi makna jihad, seperti ulama dahulu pernah merealisasi kebenaran yang terkandung di dalamnya. Jika makna jihad tidak dikupas dengan jelas, umat islam terus sengsara. Percayalah ulama Indonesia sangat berpengaruh di negara muslim monoritas di Asia ini. */Putra Patani

Comments

Red : Faizun Ibnihusen

Aktivis Indonesia (APPI)

Leave a Reply

id Bahasa Indonesia
X