Perlukah Pendidikan Profesi Guru, Bagi Mahasiswa Kependidikan?

Oleh : Dwiaryu Ningsih

Pendidikan profesi guru atau PPG sering kali kita dengar, terutama bagi kalangan mahasiswa. Mahasiswa yang akan menempuh PPG merupakan mahasiswa yang telah menyelesaikan studi S1 atau D4.  Dahulu PPG hanya ditempuh oleh mahasiswa yang telah menyelesaikan program S1 non kependidikan. Karena pada saat itu mahasiswa kependidikan memperoleh akta IV. Dimana akta IV pada masa itu memiliki nilai besar, bagi mahasiswa kependidikan. Karena akta tersebut dapat digunakan secara langsung untuk mengajar. Namun itu dulu, mulai tahun 2005 akta IV sudah tidak berlaku lagi. Sesuai dengan undang-undang 14/2005 tentang guru dan dosen, keberadaan akta IV sudah tidak berlaku lagi. Adanya keputusan tersebut berimbas besar pada seluruh mahasiswa kependidikan.  Mereka harus melaksanakan studi lagi agar mendapatkan akta mengajar, dalam hal ini mahasiswa harus menempuh PPG.

Keberadaan akta yang sudah tidak dapat diharapkan lagi, ini menjadi beban bagi mahasiswa kependidikan. Sejatinya mahasiswa kependidikan sudah menempuh jalur yang begitu panjang dibanding dengan mahasiswa non kependidikan. Semasa dikampus, mahasiswa kependidikan mendapat berbagai mata kuliah yang sebenarnya, bisa dikatakan sudah mumpuni dan siap dalam dunia pendidikan dalam hal ini mengajar. Mata kuliah tersebut adalah microteaching. Microtecahing merupakan salah satu mata kuliah dimana mahasiswa akan melaksanakan simulasi proses pembelajaran, mahasiswa dituntut layaknya seorang guru. Selain itu mahasiswa kependidikan juga melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL).

Program Pengalaman Lapangan ini bertujuan agar mahasiswa dapat mempraktikkan apa yang sudah didapatkan dibangku kuliah. PPL ini merupakan pengaplikasian dari microteaching. Sejatinya PPL merupakan kegiatan yang dilakukan mahasiswa kependidikan dalam rangka melaksanakan salah satu point dari tri dharma perguruan tinggi, yaitu pengabdian. Namun tidak hanya itu saja, PPL dilaksanakan agar mahasiswa dapat secara langsung merasakan  pengalaman mengajar di lapangan. Ketika mahasiswa sudah menempuh kedua pembelajaran tersebut, apakah masih perlu melaksanakan PPG?. Jika masih perlu, apa manfaat microteaching dan PPL selama ini, tujuan adanya microteaching dan PPL. Bukannya kedua hal tersebut sudah dapat mewakili dari adanya PPG?

Ketika dilihat dari 2 sudut pandang, mahasiswa kependidikan dan mahasiswa non kependidikan mereka berdua sangatlah beda jauh. Lulusan dari mahasiswa kependidkan disiapkan untuk dunia pendidikan (mengajar) sedangkan mahasiswa non kependidikan lebih disiapkan kedunia industri. Ketika kedua hal tersebut disamain, apakah logis? Logis-logis saja asalkan mahasiswa kependidikan tidak melaksanakan microteaching dan PPL.  Jika mahasiswa  masih melaksanakan kedua program tersebut, maka tidak adil. Karena sejatinya mahasiswa kependidikan menempuh lebih banyak dibandingkan dengan mahasiswa non kependidikan.

Comments

Red : Faizun Ibnihusen

Aktivis Indonesia (APPI)