Rakyat Patani Menuntut Kembali Pertiwinya

Apakah Konflik Berakar dari Agama?

Perjuangan menuntut kembali Patani (Merdeka) dari kekuasaan Thailand merupakan perjuangan yang didasari agama jika dilihat secara sederhana, namun sesungguhnya jika mendalami secara teliti, agama hanya alasan dari pemerintah saja agar menunda perdamai Patani.

Mayoritas masyarakat di Thailand beragama Buddha dan Muslim sebagai agama minoritas, namun sebagian besar di Patani berketurunan melayu dan beragama Islam. Hal ini sangat mudah bagi oknum tertentu mengindikasikan konflik di Patani akibat dari perbedaan agama. Seiring dengan upaya melalui propaganda, adudomba supaya konflik tetap di ranah horizontal.

 

Demokrasi Monarki Absolut

Penekanan melalui sistem monarki absolut, rakyat mampu bersuara hanya lingkup undang undang dasar Thailand saja, tidak diperboleh menjelek nama Istana atau pihak berkuasa, seringkali muncul aktor yang mengungkapkan kebenaran secara rasional, maka akan ditahan secara mutlak bahkan terjadi kehilangan tanpa jejak.

Penerapan militerisasi

Bentuk implementasi kebijakan di Thailand, militer selalu berserta dalam urusan politik dengan alasan menjaga kestabilan, tak sedikit kericuhan terjadi dari ciptaan agar menggantikan kekuasaan melalui kudeta pemerintah yang dipilih secara demokrasi.

Konflik di Patani, jika dilihat secara mendalam, kasus pelanggaran HAM mulai banyak terjadi setelah Patani dinyatakan sebagai daerah operasi meliter DOM. Penculikan dan penyiksaan dalam markas tentara tidak bisa dipungkiri lagi, kerap kali rakyat Patani sebagai korban politik dari penguasa.

Penundaan perdamaian Patani semakin panjang, Karena oknum berseragam cukup banyak yang berkepentingan atas bumi Patani.

Dengan adanya konflik ini, cukup mudah bagi oknum berseragam membesar kantongnya, terutama menarik dana pembangunan Negara, penyebaran Narkotika dan Perdagangan gelap.

Masyarakat cukup tahu hakikat permasalahan, hanya kebebasan bersuara tak menjamin keselamatan jiwanya, konflik di Patani tetap berterusan, namun Rakyat mengharap negara tetangga akan membantunya, terutama rumpun melayu.//Zuanda

Red : Faizun Ibnihusen

Aktivis Indonesia (APPI)