Right To Self Determination – SAVE – Warga Muslim di PATANI

Turanisia.com – Ini Sebabnya, mayarakat warga muslim di Patani bagian Selatan Thailand merasa tidak kuat lagi berada di bawah kekuasaan pemerintah negara Thailand. Kekejaman dan penderitaan yang mereka alami selama ini menjadikan mereka berniat untuk menentukan nasib diri mereka sendiri (Right To Self Determination of Patani) ketimbang sanggup hidup dibawah pemerintah Buddha, negara Thailand.

13592408_816777038424036_8071045470920774293_n      13607874_120300000029168329_1651900504_n

Berbagai upaya dilakukan, oleh sekumpulan mahasiswa maupun warga masyarakat sipil (civil society Patani), tetapi kandas karena pemerintah Thailand menghadapi dengan laras senapan yang jauh lebih kuat dan canggih. Melayu muslim di Patani Selatan Thailand berada di tiga provinsi yakni Yala, Pattani, Narathiwat, juga sejumlah kawasan sebagian kelima daerah provinsi Songkhla, jumlah mereka tidak banyak, hanya sekitar 2 juta jiwa, ini jumlah yang kecil dibandingkan penduduk wilayah Thailand yang berjumlah lebih dari 64 juta jiwa.

Penderitaan yang mereka alami bukan suatu yang baru. Sejak awal penduduk muslim Patani ini harus menerima “Siamisasi” di segala bidang kehidupan. Ini yang sulit diterima oleh mereka karena secara kebudayaan yang sangat berbeda. Siamisasi berarti “Budhaisasi”.

Memang, muslim Patani sangat berbeda dengan Thailand pada umumnya. Pada mulanya Patani adalah sebuah kerajaan Islam. Mengutip buku “UMAT ISLAM PATANI Sejarah dan Politik” yang penulisnya Mohd Zamberi A.Malek, provinsi Pattani dengan provinsi Songkhla, Yala dan Narathiwat keempatnya dijuluki sebagai negara Patani Darussalam yang berarti gabungan dari empat provinsi mayoritas penduduk yang suku ras Melayu agama Islam di Selatan Thailand pada saat ini.

Pemerintah dan kerajaan Thailand dalam perkembangannya melakukan tindakan diskriminasi terhadap warga penduduk yang muslim ini. Di antaranya berupa ketidakadilan dalam segala bidang. Secara ekonomi, perkembangan Patani jauh tertinggal dibandingkan dengan wilayah yang lain di negara Thailand. Bahkan secara eksplisit, masyarakat Melayu Muslim Patani dibelenggu kebebasannya, khususnya dengan pemberlakuan undang-undang yang silih berganti mulai dari darurat militer, darurat sipil hingga undang-undang terorisme.

Hingga saat ini masyarakat muslim di Patani hidup dalam ketakutan, kehidupan mereka diawasi secara ketat oleh militer Thailand. Kekejaman tentara Thailand itu tercatat dalam peristiwa pembunuhan massa di masjid Kruesek di provinsi Pattani dan Tak Bai di provinsi Narathiwat (2004) dan di masjid Al-Furqan di provinsi Narathiwat (2009). Lebih dari 100 orang nyawa terkorban di tangan tentara saat itu. Itu belum termasuk pemerkosaan yang dialami para gadis Muslimah dan pasukan generasi muda muslim dengan narkoba.

Kondisi inilah yang membuat gerakan-gerakan kemerdekaan Patani bangkit untuk melakukan perlawanan dengan menggunakan persejataan hingga ke detik ini. LINDUNGI WARGA MAYARAKAT SIPIL PATANI – Mereka berkeinginan dalam menetukan nasib diri mereka sendiri.

Penulis : Abu Muhammad Faton

Comments

Red : Faizun Ibnihusen

Aktivis Indonesia (APPI)