Sekolah Alternatif: Sekolah Yang Ramah Bagi Anak

Oleh : Muniroh Sasmita, Universitas Negeri Semarang

Sekolah alternatif di Indonesia sudah berlangsung sejak lama. Beberapa sekolah alternatif sudah mulai diselenggarakan sejak zaman kolonial. Contohnya Sekolah Serikat Islam yang didirikan oleh Tan Malaka tahun 1921 di Semarang. Sekolah ini didirikan sebagai jawaban untuk anak-anak buruh di Kota Semarang yang tidak bisa masuk sekolah umum pemerintah kolonial. Kemudian ada INS Kayutanam di Padang yang didirikan oleh Mohammad Sjafei pada tahun 1926. Sekolah ini didirikan atas dasar kebutuhan masyarakat Indonesia bukan untuk memenuhi kebutuhan pemerintah kolonial. Kemudian ada juga sekolah yang didirikan oleh Bapak pendidikan kita KI Hadjar Dewantara yaitu Taman Siswa pada tahun 1922 di Yogyakarta.

Jika ditarik pada masa sekarang, sekolah alternatif diciptakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang biasanya tidak mereka dapatkan di sekolah umum (formal). Sekolah formal yang pada umumnya memiliki cara pikir yang sama yaitu hanya untuk membuat anak menjadi sama rata dalam pengetahuan, padahal sebenarnya setiap anak memiliki kecepatan belajar yang berbeda satu sama lain. Sehingga setiap anak harus mendapatkan metode pembelajaran sesuai dengan kemampuan mereka yang biasanya tidak mereka dapatkan pada sekolah formal.  Hal itu mendorong banyaknya bermunculan sekolah-sekolah alternatif.

Dilansir dari Tirto.id, Ken Robinson dalam buku Creative School menekankan bahwa para murid belajar secara maksimum dalam kecepatan dan cara yang berlainan. “Setiap murid adalah individu unik dengan harapan, bakat, kecemasan, gairah, dan aspirasi masing-masing,” tulisnya. “Menghadapi mereka sebagai individu adalah kunci peningkatan pencapaian, Rabu (31/8/2016).

Berdasarkan hal itu, sekolah harus mampu memenuhi setiap kebutuhan belajar bagi siswanya. Pada faktanya, sekolah formal hanya menerima anak anak yang dirasa mampu mengikuti kegiatan belajar. Contohnya beberapa ada yang meberikan standar kemampuan bagi anak yang akan masuk di salah satu sekolah formal, seperti adanya standar anak yang harus bisa baca tulis saat mendaftar di sekolah dasar dan ada juga anak yang tidak diterima karena tidak bisa melewati tes tertentu. Beberapa contoh tersebut yang membuat beberapa anak tidak bisa diterima di sekolah formal.

Salah satu sekolah alternatif yang didirikan atas dasar pemikiran bahwa setiap anak memiliki kebutuhan belajar yang berbeda adalah Jogja Green School. Sekolah alternatif ini didirikan oleh Ibu Eni Krisnawati bekerjasama dengan Ibu Lilik sebagai perwakilan yayasan yang ingin membantu mengembangkan sekolah tersebut. Seperti yang dikatakan Ibu Eny saat wawancara langsung, beliau mengatakan bahwa sekolah ini didirikan karena banyak anak-anak yang tidak diterima di sekolah formal karena tidak bisa mengikuti pembelajaran yang ada di sekolah formal karena sebagian besar anak yang tidak diterima adalah anak berkebutuhan khusus, anak berkebutuhan khusus ini tidak terlihat secara nampak melainkan dari perilakunya (Eni Krisnawati, wawancara langsung, 23/4/2018).

Pada berkebutuhan khusus anak-anak cenderung memiliki cara belajar yang unik, di Jogja Green School sendiri beberapa dari mereka adalah anak anak yang hyperactive, terlalu sensitive, dan memiliki kekurangan lainnya sehingga memerlukan cara belajar yang berbeda. Contohnya ada anak yang tidk bisa belajar dengan duduk manis melainkan harus sambil bermain, anak ini tergolong dalam anak hyperactive sehingga memerlukan metode pembelajaran yang tidak hanya duduk di dalam kelas. Ada anak yang mudah patah hati/tersinggung (sensitif), ada anak yang media belajarnya suka dengan menggambar sehingga saat ujian hanya diberi soal berbentuk gambar. Anak anak itu adalah bentuk dari keberagaman kebutuhan belajar yang tentunya membutuhkan treatment yang berbeda-beda.

Sekolah ini memiliki sebuah mindset berpikir yaitu bermainmu adalah belajarmu dan semua orang adalah guru. Pada sekolah ini pembelajaran yang utama adalah penguatan karakter anak karena mereka menganggap bahwa setiap anak harus dibentuk perilakunya sebelum menginjak usia 12 tahun.

Kemudian sekolah alternatif yang lain adalah Sanggar Anak Alam (SALAM) yang terletak di Bantul Yogyakarta. Pendirinya adalah Ibu Sri Wahyuningsih, beliau menganggap bahwa tujuan dari sekolah formal sudah bergeser dari tujuan awalnya, itu yang mendorong Ibu Sri Wahyuningsih untuk mendirikan Sanggar Anak Alam.

Berbeda dengan Jogja Green School yang menganggap setiap anak memiliki cara belajar nya masing-masing tetapi pada sekolah Sanggar Anak Alam ini menganggap bahwa setiap anak adalah tidak tahu sehingga kita wajib memberitahu dengan benar dan jelas. Seperti dikatakan Ibu Sri Wahyuningsih bahwa Sanggar  Anak  Alam  berangkat  dari  mengkritisi  pendidikan formal  yang  ada,  semestinya  pendidikan  itu  belajar  hal-hal  yang mendasar  dari  kehidupan,  semestinya  sekolah  dekat  dengan kehidupan,  sedangkan  sekolah  formal  yang  ada  itu  mengedepankan sisi  kognitif dan tidak mengakar pada kehidupan masyarakat, seperti lembaga yang berdiri sendiri (Sri Wahyuningsih, wawancara langsung, 23/4/2018).

Sanggar  Anak  Alam  adalah  sekolah  yang  berbasis  pada penggunaan  alam  sebagai  sumber  belajar. Itu terlihat dari bentuk sekolah yang sebagian besar  cara belajar dan sumber belajarnya lebih memanfaatkan sumber daya alam sekitar desa. Diisi Para siswa dibebaskan untuk mengeksplorasi sendiri apa yang mereka suka sesuai dengan visi dari sekolah alam yaitu cari tau kemudian kuasai. Intinya Sekolah Sanggar Anak Alam lebih mendekatkan sekolah pada kehidupan dan memerdekakan siswa-siswanya.

Dalam wawancara bersama mas Yudhis bahwa  pendidikan utama mereka tetap mengacu pada kurikulum nasional. Tetapi pada saat pembelajaran mereka yang tidak serta merta langsung menimplementasikan seluruh kurikulum nasional, melainkan lebih banyak yang dikembangkan sendiri. Seperti contoh pada saat pembelajaran para pengajar lebih mengimplementasikan pembelajaran berdasarkan sebab dan akibat. Para pengajar menganggap bahwa jika para siswa dapat mengelola sebab, mereka akan mampu mendapatkan akibat yang berarti sebab itu adalah kebutuhan yang mereka butuhkan di kehidupan. Lalu akibat terdiri dari 3 unsur yaitu ilmu, keterampilan, dan sikap. Mereka mengadopsi cara kerja dokter dimana saat dokter memeriksa pasien kemudian memberi resep, dokter harus mengetahui sebabnya dulu, kemudian setelah mengerti berbekal ilmu yang dokter punya akhirnya dokter bisa memberikan sebuah resep (Yudhis, wawancara langsung, 23/4/2018).

Melihat dari beberapa fakta tentang sekolah alternatif di atas, banyak orang tua yang sekarang ini tidak ragu untuk menyekolahkan anaknya di sekolah alterantif. Kenapa? Karena mereka menganggap sekolah alternatif lebih memberikan jaminan untuk anak mereka. Contohnya beberapa dari orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah islam terpadu karena sekolah islam terpadu sendiri mampu memberikan jaminan bahwa anaknya akan memiliki ilmu agama dan akhlak yang baik. Selain itu, menjamurnya sekolah alternatif pada zaman sekarang adalah bentuk keresahan masyarakat terhadap sistem pendidikan sekarang yang dianggap sudah banyak yang bergeser. Seperti yang dikatakan Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan seharusnya mampu memerdekakan anak didik.

Comments

Red : Faizun Ibnihusen

Aktivis Indonesia (APPI)