Tempat Isolasi Untuk Wabah Covid-19 Menurut Hadits Nabi Saw

Turanisia.com – Keadaan pandemi Covid-19, atau yang sering kita sebut dengan virus korona ini ternyata makin mengkhawatirkan. Virus yang disinyalir berasal dari negri Tiongkok, tepatnya di kota Wuhan, ini membawa gejala yang mengakibatkan penyebarannya makin membuat resah masyarakat dunia.

Hal ini tercermin dari statistik korban yang terus meningkat. Dilansir dari laman covid19.go.id tertanggal 1 April 2020 pukul 15 53 WIB, bahwa virus ini telah menelan kasus terkonfirmasi sebanyak 750.890 di 203 negara, termasuk Indonesia.

Pencegahan sejak dini sudah digemakan oleh berbagai pihak. Di negara kita, semua elemen saling bahu-membahu untuk melawan penyebaran Covid-19 ini dengan banyak hal, seperti penanganan preventif dan represif oleh tenaga medis, pengaturan kebijakan oleh jajaran pemerintahan, hingga mensosialisasikan berbagai hal tentang Covid-19 dan penyaluran donasi oleh para influencer/ tokoh publik.

Pada awalnya, virus korona yang diduga berasal dari China ini telah “mampir” ke berbagai belahan dunia. Kasus terbesar dan marak dibicarakan adalah di China sendiri, Italia, Amerika Serikat dan tentunya Indonesia (dalam pemberitaan nasional).

Pencegahan terhadap virus korona ini dimulai dengan mengantisipasi adanya kemungkinan penyebaran oleh WNA yang masuk ke suatu negara untuk diisolasi terlebih dahulu di suatu tempat.

Amerika Serikat misalnya, mengevakuasi warganya dari Wuhan terlebih dahulu di pangkalan militer yang terletak di California selama 72 jam (3×24 jam).

Australia mengikuti langkah dengan mengisolasi terlebih dahulu di pulau Chrismas. Dan pengalaman ini diperhatikan langsung oleh pemerintah Indonesia untuk menempatkan warganya dari luar negeri ke pulau Natuna terlebih dahulu, untuk tahap masa isolasi selama 2 minggu.

Melihat fenomena ini, agama islam menilai fenomena ini adalah bukan kali pertama dalam sejarah umat. Pada masa khalifah Umar bin Khattab r.a., sekitar tahun 17 H. (39 M) telah terjadi wabah yang sangat mengerikan.

Peristiwa ini terjadi di Amwaz, suatu wilayah yang terletak di Syam. Pandemik tersebut dikenal dengan disebut dalam sebuah hadis Nabi SAW. dengan istilah Tha’un.

Tha’un adalah suatu penyakit kulit, sejenis lepra/ kusta yangmana awalnya menyerang hewan ternak. Menurut Ibn Qayyim al Jauziyah dalam kitab Zaadul Ma’aad (IV:37), Tha’un adalah sejenis wabah penyakit yang menular.

Terhitung sahabat Nabi SAW. seperti Abu Ubaidah bin Jarrah, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Syam pada masa khalifah Umar r.a., dan Muadz bin Jabal direnggut nyawanya oleh wabah tersebut.

Peristiwa ini tergambar pada sebuah hadis dalam Shahih al Bukhari no. 5730 yang berbunyi,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرٍ – أَنَّ عُمَرَ خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ، فَلَمَّا كَانَ بِسَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّأْمِ – فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا، فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ

Artinya:
Dari Abdullah bin ‘Amir bahwa ‘Umar pernah bepergian menuju Syam, namun saat ia sampai di daerah Sargha, diberitahukan kepadanya bahwa sebuah wabah menjangkiti Syam. Lantas Abdurrahman bin ‘Auf memeritahukan kepadanya bahwa Rasulullah pernah bersabda:

“Janganlah kalian mendengar wabah tersebut menjangkiti suatu negeri, maka janganlah kalian menuju ke sana. Namun jika dia menjangkiti suatu negeri dan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar darinya” (HR. Bukhari)

Dari hadis tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa hal yang sebenarnya tepat untuk dilakukan adalah menahan diri dari sebuah wilayah yang terjangkiti wabah.

Namun pertanyaannya, bagaimana dengan sekarang yang mana seluruh wilayah Indonesia waspada terhadap virus korona ini?. Hemat penulis, hal yang tepat dilakukan adalah mengikuti anjuran dari pemerintah yang sekarang masif dikenal dengan sebutan Physical Distancing.

Hal semacam ini pun sebenarnya telah dilakukan jauh oleh ‘Amr bin Ash yang menggantikan posisi Abu Ubaidah sebagai gubernur Syam yang wafat terlebih dahulu karena wabah Tha’un.

Ibn al Atsir dalam kitab Al Kamil menjelaskan bahwa Allah menyelamatkan warga Amwaz yang dipandu oleh ‘Amr bin Ash untuk keluar dari Syam untuk menuju pegunungan.
Sekiranya, dapat ditarik beberapa kesimpulan dari langkah yang diambil dari ‘Amr bin Ash.

Pertama, kaum muslim yang berada di wilayah Amwaz tidak kembali ke Madinah, sehingga tidak menularkan virus ke maysrakat umum.

Kedua, Amr mencari wilayah lain sebagai tempat isolasi untuk kaum muslim dalam menghadapi penyakit tersebut.

Momen ini lah yang sekiranya tepat untuk kita reaktualisasikan dalam konteks masa sekarang dengan menjauh/ menghindar dari wilayah yang terjangkit virus korona, walaupun hanya sekedar untuk berdiam diri di dalam rumah. Tentu dengan tetap berniat untuk menghindar dari sebuah wabah atau agar tidak menularkan penyakit apabila kita sendiri sedang terjangkit.
Wallahu a’lam bi as Showaab

Oleh : Perdana Putra Pangestu

Comments

Red : Faizun Ibnihusen

Aktivis Indonesia (APPI)

Leave a Reply

id Bahasa Indonesia
X