TERUNGKAP! mantan tahanan tersangka di Patani selatan Thailand disiksa setengah mati saat  ditahan di sebuah kamp militer.

Turansia.com – Patani, Mantan tahanan tersangka kasus konflik di selatan Thailand terungkap disiksa setengah mati selama ditahun di sebuah kamp militer, membawa kekhawatiran akan menjadi faktor kedendaman dan hilang kepercayaan terhadap penguasaan Thailand.

ungkapan dari mantan tahanan tersangka karsus konflik di Selatan Thailand bahwa disiksa setengah mati dari tentara militer Thailand, bentuk penyiksaannya berbagai-bagai, ada yang memukul dan ditendam sehingga pingsan,  memukul dengan ujung senapan, menyesakkan nafas dengan menggunakan kantong hitam membalut di kepala dan sebagainya, merupakan penyiksaan yang sangat pedih dan terancam perasaan biliau dan keluarganya. Khawatir akan menjadi penyetusan kedendaman yang akan membawa kepada konflik kekerasan kedepan.

Baru-baru ini seorang mangsa dari tahanan militer mengungkapkan isi hati dan tangisannya mengharap bahwa bisa menjadi suara tuntutan bagi para mangsa kekerasan yang masih disiksa oleh tentara penguasaan Thailand dalam kasus konflik di Patani selatan Thailand saat ditahan di kamp militer Khususnya di  satuan tugas khusus 43 dan pusat penyelidikan kamp Ingkhayuthaborihan di Distrik. Nongcik Provinsi Pattani.

saudara Abdullah (Nama Gelar) berkata bahwa dirinya disiksa terus sejak tahun 2007-2017, 4 kali dia ditangkap oleh tentara penguasaan Thailand, kasusnya diperpanjangkan berkali-kali tidak ada pembuktian yang jelas bahwa dia salah seperti yang difitnahkan oleh tentara penguasaan Thailand. “berkali-kali saya menutut keadilan kepada diri saya tapi tidak ada respon dari pihak pemerintah atau siapa pun yang bisa membantui saya,  kali terakhir pada tahun 2017 saya disiksa sehingga patah tangan dan seluruh badan saya terluka, bila menuntut kepada pihak penguasa tidak ada yang peduli malah dikira memfitnah para tentara penguasaan Thailand.”

“ tahun itu awalnya saya ditahan selama 3 bulan, pihak tentera penguasaan Thai datang menangkap saya dirumah tempat kediaman saya, hari itu kebetulan dengan bulan Ramadhan dan saya dalam kedaan puasa setelah sampai di kamp militer saya dibawa ke ruang kecil ukuran tinggi sekitar 100 cm. dan lebar sekita 80 cm. selama 4 hari 4 malam saya berdiri terus disitu, 7 hari pertama saya ditahan di satuan khusus 43”.

Abdullah ujarkan lanjut “mereka memaksa saya untuk mengaku salah, bila saya bertanya kesalahan apakah yang saya harus mengaku? mereka cuma diam jawabannya kosong, bila tidak mengaku lalu saya di tendam dan disiksa berbagai-bagai kedzaliman. Apabila ada keluarga saya yang mengunjungi mereka membawa ke tempat pengunjungan hanya untuk bersalaman saja tidak sempat untuk berkata apa-apa!, kemudian dibawa kembali ke ruang kecil itu dengan ada 2 pengawas yang saling bergantian dan CCTV yang merekamkan setiap kelakuan saya”

“setelah disiksa di ruang kecil tersebut mereka membawa saya lempar ke kolam ikan dengan melepaskan semua pakain tinggal hanya celana dalam saja, selama 2 jam saya direndam di kolam ikan kemudian dibawa saya ke ruang penyelidikan untuk memeriksa, bila menjawab tidak cocok dengan hati mereka, mereka segera menendam dan memukul perut saya berkali-kali, saya tidak tau apa yang harus saya katakan kepada mereka, karena semua yang saya jawab yang benar dianggab bohong.

berbagai kesiksaan dan cacian yang mereka lakukan keatas saya dan keluarga saya  tapi saya tidak bisa mengatakan dan melakukan apa-apa, hanya kegelapan kepedihan dan suara cacian yang menemani perasaan saya saat itu. Setiap kali mereka (tentera penguasaan Thai) datang menangkap saya dirumah, sikap mereka sangat kejam  tidak berperi kemaanusiaan dan tidak menghormati agama. 3 kali saya dipaksa untuk bergabung di proyek penyerahan diri (Phakhon Kelabban), tapi bila saya menolak tawaran itu mereka langsung mengancam saya dan keluarga, saya sudah putus harapan atas proyek-proyek yang pihak pemerentah Thai mengatakan akan menyelesaikan masalah konflik di selatan Thai, karena tanpa keadilan harapan itu palsu saja.

Sekarang kelihatannya karsus saya sudah selesai tapi hakikatnya tidak!. setiap kali ada pertukaran petugas di kamp militer, karsus saya di periksa lagi dan diulang-diulang kejadian seperti dulu, hidup saya sentiasa ditemani oleh fitnah, paksa menerima akibat dari kesalahan yang saya tidak melakukan, saat saya menjadi guru dianggap saya sebagai juru pelatih pemberontak, lalu sekarang saya tidak berprofesi sebagai guru lagi karena cemas dengan fitnah-fitnah yang senantiasa menghantui hidup saya.

Maka di hari ini saya usaha mencari jalan keluar atas masalah ini, menuntut keadilan kepada diri saya sendiri dan kepada mereka yang masih mengalami kondisi seperti saya, karena saya yakin bahwa bukan hanya saya yang menjadi magsa kekerasan tersebut, bahkan masih banyak orang-orang yang tidak bersalah yang menjadi mangsa kekerasan dari tahanan-tahanan meliter itu, terpaksa menerima naksibnya karena takut diancam kembali bila mereka bersuara./Uswatul Hasanah

Comments

Red : Faizun Ibnihusen

Aktivis Indonesia (APPI)