Thailand Umumkan Curfew, Adapun BRN Menggencat Senjata Hadapi Covid-19

Turanisia.com – SAAT ini Thailand telah memberlakukan aturan jam malam (Curfew Rule) di seluruh negaranya termasuk di wilayah konflik umat muslim Melayu Patani demi untuk mencegah penyebaran wabah Coronavirus (Covid-19). Demikian hal tersebut telah diumumkan langsung dari Perdana Menteri Thailand, Prayut Chan-o-cha, pada 3 April 2020 lalu, yang melarang warganya untuk keluar rumah mulai pukul 10 malam hingga 4 pagi. Akan ada sanksi hukuman berupa denda dan penjara bagi yang melanggar aturan tersebut. Namun tidak selamanya, baru-baru ini militer Thailand memanfaatkan peluang tersebut untuk beroperasi pengepungan dan mengancam rumah penduduk muslim di Patani.

Pengepungan atas rumah penduduk muslim di Daerah Maiken, pada 5 April kemarin sekitar pukul 2 tengah malam oleh pegawai yang mengaku sebagai tentara ranger Thailand dari pada Chulabhorn Camp, Narathiwat, mereka datang bersama tiga buah mobil pik-ap. Berturut-turut, pasukan itu beroperasi menggeledah rumah penduduk muslim di Kampung Donsai, Maiken. Tiga buah rumah penduduk yang diselidiki pasukan tanpa diketahui kebenarannya. Penyelidikan itu juga berlangsung sekitar 50 menit, setiap orang diancam keluar dari rumahnya hingga diminta menunjukkan kartu tanda pengenalan diri.

Seperti dilansir dari akun facebook Jasad (Jaringan Mangsa Dari Undang-Undang Darurat) menyebutnya bahwa “Warga desa dalam insiden itu merasa sangat khawatir karena beberapa pegawai tidak mengenakan masker medis, sambil berbicara dan mencari.”

Akibat perilaku tabiat represif dari militer Thailand yang kurang prihatin dengan kondisi penduduk muslim yang sama-sama tengah dihadapi bencana kemanusiaan ini telah menimbulkan dampak yang lebih buruk di atas krisis yang ada. Mengingatkan, Melayu Patani berada dalam situasi konflik yang telah berlangsung lebih dari satu dekade yang belum mempunyai tanda temu untuk berakhir. Namun, sejak kekerasan kembali meletus pada 2004 wilayah Patani terus dikendalikan oleh militer karena adanya pemberlakuan Undang-Undang Darurat Militer, ini juga menciptakan ketegangan dan kehadiran para personil militer di tengah-tengah masyarakat. Warga Melayu dari wilayah tersebut telah lama mendesak pihak berwenang memperlakukan mereka sebagai warga kelas dua. Enam belas tahun UU Darurat Militer di tiga wilayah Pattani, Yala, dan Narathiwat – wilayah yang merupakan bekas Kerajaan Patani sebelum dianeksasi oleh Siam (sekarang Thailand) – hanya memperkuat perasaan di antara penduduk lokal Melayu memiliki hak kurang dari sisa Thailand.

Sementara dalam suasana rakyat Patani sedang menghadapi kesulitan dan kecemasan ini, ia diburukkan lagi oleh peningkatan operasi ketentaraan yang tidak ada perikemanusiaan dan bertimbang rasa. Ini termasuk operasi serbuan, pengepungan rumah-rumah yang dicurigai, penangkapan dan penahanan orang Melayu yang dicurigai terlibat dalam pergerakan. Maka itu, dari kumpulan bersenjata paling berpengaruh di selatan negera itu, Barisan Revolusi Nasional Melayu Patani (BRN) mengumumkan gencatan senjata dalam menghadapi tantangan kesehatan global, khusus bagi menyediakan akses bantuan pengobatan dan kemanusian buat penduduk di wilayah yang terinfeksi akibat pandemi virus korona.

Dalam pernyataan tertanggal 3 April lalu, kumpulan itu mengumumkan “langkah menghentikan semua tindakan senjata” dimulai dari hari Jum’at bersamaan 9 Sya’ban 1441 H. “sehingga BRN tidak diserang oleh pihak kakitangan Kerajaan Thailand.”

BRN komitmen untuk bekerjasama dengan semua pihak terutama tenaga medis dalam menghadapi wabah COVID-19 dan sebagai pembela Bangsa Patani.

“Untuk mencipta suasana yang lebih aman dan selesa bagi rakyat di Patani, berhubungan dengan segala usaha-usaha seluruh kakitangan kesihatan, dan agensi-agensi yang bertugas mencegah dan mengawal wabak COVID-19, kini BRN telah mengambil sikap memberhenti segala kegiatan dalam rangka memberi laluan kemanusiaan karena menyedari bahawa di saat ini musuh utama umat manusia sejagat adalah COVID-19,” demikian menurut kenyataan yang dikeluarkan oleh sekretariat pusat BRN.

BRN mengimbau kepada seluruh Bangsa Patani untuk berikhtiar menjaga diri, keluarga masing-masing semampu mungkin serta banyak berdoa kepada Sang Pencipta Alam Sejagat. (AF)

Comments

Red : Faizun Ibnihusen

Aktivis Indonesia (APPI)

Leave a Reply

id Bahasa Indonesia
X