Ulama Patani di Abad Modern, TGH Ismail Sepanjang Al-Fathoni

Turanisia.com – Dari sebuah Negeri Melayu Muslim Patani awalnya, kini terbagi menjadi keempat provinsi di Thailand bagian selatan, yakni provinsi Yala, Narathiwat, Songkhla, dan provinsi Pattani. Dalam realita tersebut karena Negeri Melayu Patani telah direbut kuasa oleh kerajaan Siam Thailand sejak tahun 1785 hingga sekarang ini.

Tetapi bagi sebagian kaum muslimin di Indonesia, bahkan termasuk penduduk Melayu di kawasan Asia Tenggara, apalagi bagi para penuntut ilmu agama, nama Patani bukanlah nama yang asing, dan belumlah dihilangkan dari catatan para sejarawan di abad modern ini. Ia nama sebuah negeri Islam terkenal di tanah Melayu, Nusantara, yang selama berbada-abad menjadi salah satu pusat keilmuan Islam di Semenanjung Melayu. Tidak hanya itu, tetapi tampaknya Patani yang paling dikenal luas di negeri-negeri lain, bahkan hingga di Timur Tengah.

Karenanya di negeri ini terkenal dengan banyak telah melahirkan para cendekianwan, ulama Patani yang terkenal, karya-karya mereka pun banyak. Siapa yang tak kenal Syaikh Daud bin Abdullah Al-Fathani, ulama Nusantara yang paling banyak menghasilkan karya fiqih dalam Madzhab Syafi`i? Ia ulama Nusantara pertama yang menulis fiqih Madzhab Syafi’i yang lengkap dalam seluruh judul kitab, bab, dan fasalnya, dengan kitabnya berjudul Hidayatul Muta`allim wa `Umdatul Mu’allim, yang ditulis tahun 1244 H/1828 M. Masih banyak lagi karya beliau, sumber ditelusuri dari sebuah artikel terkait.

Syaikh Daud bukan hanya satu-satunya ulama Patani yang terkenal dan yang menghasilkan karya-karya yang berkualitas. Masih banyak nama besar yang lainnya yang tak cukup ruang di sini untuk menuliskan dan memerincinya.

Di masa kini pun, tokoh-tokoh ulama Patani terus bermunculan melanjutkan perjalanan yang dilakukan dengan berganti-ganti perjuangan para pendahlu mereka. Di antara tokoh ulama Patani sekarang yang dikenal luas di kawasan tempatan, bahkan meluas hingga negeri-negeri Melayu yang lain, adalah Tuan Guru Haji Ismail Sepanjang.


Biografi TGH Ismail Sepanjang Al-Fathoni

Nama asli beliau adalah Ismail Bin Umar atau yang dikenal Baba Ismail Sepanjang Al-Fathoni dilahirkan tahun 1955 di sebuah kampung di Dusun Panjang, yang termasuk daerah Jambu, salah satu daerah di Patani. Antara berjarak jauh dari ibukota Patani sekitar 26 km. Sedangkan Patani, atau dalam kitab-kitab disebut “Fathoni”, adalah menandakan nama sebuah Negeri Patani atau Fathoni Darussalam. Sebagaimana diketahui, mayoritas penduduk wilayah Thailand Selatan adalah mereka berbangsa Melayu dan beragama Islam. Berbeda dengan wilayah-wilayah lain di Thailand, yang dihuni bangsa Siam yang beragama Buddha. Karena berasal dari Dusun Panjang, ia lebih dikenal dengan “Tuan Guru Haji Ismail Sepanjang” atau “Baba Ismail Sepanjang Al-Fathoni”.

Ayahnya bernama Wan Umar bin Wan Abdul Lathif bin Wan Abdul Karim, sedangkan ibunya Siti Khadijah binti Ismail. Keduanya berasal dari Patani, hanya saja datuk-datuk ibundanya berasal dari Johor, Malaysia. TGH Ismail adalah anak lelaki tunggal (adalah anak bungsu) dari semuanya tiga bersaudara, kedua kakaknya perempuan.

Sebagaimana ulama-ulama Patani dan ulama-ulama Nusantara lainnya, ia pun belajar di pondok-pondok setempat. Jika sebagian ulama Patani setelah menyelesaikan pelajarannya melanjutkan pendidikannya di Timur Tengah atau tempat-tempat lain di luar negeri, tidak demikian dengan TGH Ismail Sepanjang. Ia tidak belajar ke luar negeri. Pendidikannya hanya di pondok-pondok di Patani, namun dijalani dengan penuh kesungguhan, keikhlasan, dan dilalui dalam waktu yang lama.

Maka tak mengherankan jika hasilnya pun tak mengecewakan, membanggakan. Meskipun produk lokal, keluasan dan kedalaman ilmunya dalam berbagai cabang ilmu-ilmu keislaman tak kalah dengan lulusan-lulusan Timur Tengah.

Sebelum mengikuti pelajaran di pondok-pondok, di masa kanak-kanak ia belajar di sebuah sekolah kebangsaan Thai, setingkat sekolah dasar di Indonesia. Selama enam tahun ia mengikuti pelajaran di tingkat dasar itu, empat tahun di kampungnya sendiri dan dua tahun berikutnya di Kampung Tanjong.

Karena berada di wilayah Negara Thailand, tentu saja para pelajar sekolah kebangsaan Thai, selain mempelajari ilmu-ilmu umum sebagaimana di negara-negara lain, juga mempelajari hal-hal khusus yang berkaitan dengan negaranya, terutama bahasa dan sejarah Siam. Karenanya, meskipun dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di wilayah Thailand Selatan berbicara dalam bahasa Melayu, mereka pun dapat berbahasa Siam.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, barulah ia menimba ilmu di pondok-pondok di Patani. Pondok-pondok itu merupakan pesantren-pesantren tradisional yang hanya mempelajari ilmu-ilmu agama dengan mengkaji kitab-kitab lama peninggalan ulama masa lalu. Sebagian pesantren tradisional di negeri-negeri Melayu juga masih banyak yang demikian.

Pertama-tama ia belajar di sebuah pondok di kampungnya yang didirikan oleh TGH Abdul Lathif bin Haji Abdur Rahman. Kurang lebih tujuh tahun ia menimba ilmu di sini. Setelah itu ia melanjutkan pengembaraannya dalam menuntut ilmu dengan belajar di sebuah pondok di daerah Mayo, masih di wilayah Patani juga.

Kitab-kitab yang dipelajarinya sebagian besar sama dengan yang dipelajari di pondok-pondok di Tanah Melayu lain seperti Indonesia, Malaysia dan lain-lain. “Saat mempelajari ilmu nahwu, kami membaca kitab Mukhtashar Jiddan, Al-Kafrawi, Al-Kawakibud-Durriyyah, dan lain-lain. Sedangkan ketika mempelajari ilmu sharaf, kitab-kitab yang dibaca di antaranya Al-Kailani. Dalam ilmu tauhid, yang biasa dibaca adalah kitab-kitab seperti Kifayatul Awam, Jauharatut-Tauhid, Tijan Ad-Darari, Fathul Majid, dan lain-lain. Untuk ilmu fiqih, di antaranya Fathul Qarib, Hasyiyah Al-Bajuri, Fathul Mu`in, I`anatuth-Thalibin. Untuk ushul fiqh, di antaranya Al-Waraqat dan Al-Luma` . Bagi tingkatan yang lebih lanjut, membaca Jam`ul Jawami`. Ada juga yang mempelajari Irsyadul Fuhul. Kitab-kitab itu selalu dibaca dan dipelajari, seolah-olah menjadi wirid kami,” begitu TGH Ismail Sepanjang menyebutkan beberapa kitab yang dipelajarinya saat menuntut ilmu di pondok, seperti dilansir oleh Facebook Page Baba Ismail Sepanjang Al-Fathoni.

Setelah menikah dan menunaikan haji, TGH Ismail Sepanjang mendirikan pondok. Maka kemudian hari-harinya pun diisi dengan kegiatan keilmuan dan dakwah. Dan bukan hanya di pondok yang dipimpinnya, melainkan juga di tengah-tengah masyarakat Melayu Muslim Patani hingga negeri-negeri di sekitarnya. Di hari-hari tertentu ia mengajar di masjid-masjid di Patani yang dihadiri oleh ribuan umat.

Kabarnya, kalau ia mengajar, beberapa jam sebelumnya orang sudah berkumpul bersiap-siap mendengarkan pengajaran, fatwa-fatwa, dan nasihat-nasihat yang disampaikan olehnya.

Di tengah-tengah kesibukannya mengajar, TGH Ismail Sepanjang masih dapat menghasilkan karya-karya, baik tulisannya sendiri maupun terjemahan atau ringkasan dari kitab-kitab yang ada. Karya-karyanya, selain dipelajari oleh para santrinya dan jama’ah pengajiannya, juga banyak digunakan oleh masyarakat muslim pada umumnya. Bukan hanya di Patani, melainkan juga di negeri-negeri lain.

Apa yang diraihnya kini, yakni keluasan dan kedalamannya dalam ilmu-ilmu keislaman, selain berkat kesungguhan dan keikhlasannya dalam menuntut ilmu serta doa dari orangtua dan guru-gurunya, juga tak terlepas dari kecintaannya kepada kitab-kitab. Kecintaan dan kegemarannya akan kitab-kitab sangat tampak dan ia sendiri juga menuturkannya.

TGH Ismail Sepanjang menceritakan, saat ia mengunjungi ke toko-toko al-Kitab, secara bergurau ia menggambarkan kegemarannya itu. “Kami jika berada di toko kitab seperti ini tak ubahnya seperti perempuan-perempuan saat sedang berada di toko pakaian. Tak mau cepat-cepat beranjak,” dikutip dari tulisan jurnal, Tuan Guru Haji Ismail Sepanjang, Kewibawaan Yang Alami.

Begitu pun ketika sedang mendengarkan penjelasan Habib Alwi Abubakar Assegaf mengenai proses pentahqiqan kitab yang dilakukan di Darul Kutub Al-Islamiyah, ia mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali ia memberikan komentar-komentar singkat yang menunjukkan kedalaman ilmunya.

Pengajaran-pengajaran, fatwa-fatwanya, dan nasihat-nasihatnya, bukan hanya dapat diikuti oleh kaum muslimin di Patani dan sekitarnya. Dengan kemajuan teknologi sekarang ini, kita pun dapat mengikutinya di internet. Mudah bagi kita untuk mengakses pengajian-pengajiannya atau kitab-kitabnya di dunia maya.

Apa yang disampaikannya dan ditulisnya telah nyata memberikan manfaat besar bagi umat. Semoga TGH Ismail Sepanjang serta para ulama Patani dan sekitarnya dapat terus melanjutkan perjuangan para pendahulu mereka yang telah berjasa besar dalam mengembangkan Islam dan menghidupkan ilmu-ilmu keislaman di Nusantara. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan dan keberhasilan baginya dalam menjalankan tugas dakwah dan penyampaian ilmu-ilmu keislaman bagi muslimin di mana saja, terutama di Semenanjung Melayu.

*( Penulis adalah Muhammad Awae, Mahasiswa Patani di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora )

Comments

Aksi Mahasiswa

Diaspora